Info Sekolah
Rabu, 27 Mei 2026
"Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan"
"Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan""Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan"
11 Mei 2026

BAHASA SUNDA DI TANAH PASUNDAN

Sen, 11 Mei 2026 Dibaca 34x

Interaksi Pendatang dengan Bahasa Lokal

Oleh : ASBULLAH HUDHA, S.Si

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

DI BELAKANG LATAR

Awalnya saya berniat untuk menuliskan topik dalam tulisan saya ini dalam bentuk penulisan ilmiah. Tapi setelah saya timbang-timbang, saya pikir-pikir, akhirnya saya putuskan untuk menulis secara bebas saja. Cobalah Tuan-tuan dan Puan-puan bayangkan ketika saya tulis judul tulisan saya ini :

LEMAHNYA PENGUASAAN BAHASA DAERAH BAGI PENDUDUK PENDATANG DI KABUPATEN BEKASI

Sebuah Analisis Geografi (Pendekatan Interaksi Spatial Linguistik)

Kira-kira siapa yang akan tahan membaca lama-lama? Dengan pertimbangan tersebut maka akhirnya saya putuskan untuk menulis secara biasa saja, layaknya bercerita saja. Berharap ada yang mau membaca sampai tuntas.

Peribahasa di atas adalah sebuah kebijakan atau wisdom dari para leluhur kita yang sudah sejak dulu mengenal budaya merantau. Sebuah budaya yang menggambarkan bagaimana sejak dahulu kala, orang sudah saling berpindah tempat, bermigrasi karena berbagai faktornya. Pandangan berbagai ilmu secara beragam memperikan perspektifnya. Ilmu sosiologi melihat merantau sebagai suatu proses sosial orang atau kelompok oranga untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Ilmu ekonomi melihat aktivitas merantau sebagai sebuah kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia yang bisa jadi bersifat primer, subsidiary, atau komplementer. Ilmu Geografi melihat bahwa merantau adalah sebuah interaksi manusia antar ruang yang terjadi karena adanya faktor complementary (saling melengkapi), intervening opportunity (kesempatan antara) dan spatial transfer abilty (kemudahan berpindah dalam ruang) terkait dengan sumberdayanya.

Perpindahan orang dari suatu tempat ke tempat yang lain punya berbagai motif.  Sebagian besar adalah karena faktor ekonomi. Motif lain secara umum bisa terjadi juga karena faktor pribadi dan sosial[1]. Faktor-faktor ekonomi  ini bisa terjadi karena permasalahan gaji dan atau pendapatan. Orang cenderung berpindah karena mempunyai ekspektasi atau harapan untuk memperoleh gaji atau pendapatan yang lebih baik dari yang diperolehnya saat ini. Barangkali faktor inilah yang dominan menjadi motif saya untuk berpindah dari kampung halaman saya di Yogyakarta ke Jawa Barat. Sedikit cerita saja, karena ini bukan topik yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini, bahwa awalnya saya sudah bekerja di kota Yogya dengan gaji Rp.350 K perbulan di tahun 2003. Kemudian karena saya memutuskan dengan nekat bahwa setelah bekerja walaupun gaji sebegitunya saya harus mengalami mobilitas sosial secara vertikal dari seorang yang lajang menjadi kepala rumah tangga. Menikahlah saya dengan seorang perempuan yang saya baru kenal kurang lebih 9 bulan, namun sama-sama nekatnya. Akhirnya setelah kami menikah, gaji saya naik menjadi Rp.500 K perbulan. Hal itu berlangsung dari bulan Juli sampai dengan Agustus 2004. Tentu saja dengan penambahan 150 K tetap tidak akan membawa kami ke mana-mana di masa depan. Lewat perenungan, diskusi panjang dan proses yang intens, saya mulai mencari peluang-peluang untuk mencari pekerjaan di tempat lain yang lebih baik dari segi pendapatan atau gajinya. Peluang itu datang dari sebuah pengumuman di Kantor Pusat Tata Usaha kampus saya di seputaran Bulaksumur, yang isinya: sebuah sekolah swasta bertaraf Internasional di Lippo Cikarang membutuhkan pengajar untuk mata pelajaran Geografi. Singkat kata setelah bolak-balik Yogya-Jakarta-Cikarang-Jakarta-Yogya, saya diterima di sekolah tersebut dan mulai mengajar di bulan September 2004. Resmi lah saya menjadi perantau di Jawa Barat.

Saya berpindah tempat tinggal dua kali. Awal saya merantau, perpindahan saya dari Yogya ke Purwakarta. Saya tinggal di Purwakarta dan pergi pulang Purwakarta Cikarang selama 2,5 tahun, dari September 2004 sampai April 2007. Perpindahan kedua saya pindah dari Purwakarta ke Cikarang Baru mulai April 2007. Itulah mobilitas geografis saya.

Cerita perkeonomian berlanjut. Gaji awal yang saya peroleh naik drastis 300% menjadi Rp. 1,5 M (million bukan milyar). Saya girang bukan kepalang waktu itu karena ternyata Jawa Barat cukup memberikan harapan untuk masa depan saya. Luar biasa …Alhamdulillaah. Saya merasa ini anugerah yang bukan main untuk saya dan keluarga saya jika dibandingkan dengan penghasilan saya sebelumnya yang hanya sepertiganya. Bukannya tidak bersyukur dengan gaji yang lama, hanya saja ini bagi saya mengejutkan ketika mendapatkan gaji yang 3 kali lipatnya. Saya merasa bahwa saya orang paling beruntung di lingkungan saya dengan gaji seperti itu. Belakangan, saya baru tahu kalau ternyata ada pekerjaan lain sebagai karyawan atau operator pabrik yang gajinya bisa 4 sampai 5 kali dari gaji saya ketika mereka mempunya overtime yang banyak, cukup lulus SMA atau SMK, dan tidak perlu harus jadi sarjana. Tetap bersyukur ….

MASALAH

Sampai sekarang berarti saya sudah 21 tahun lebih sedikit menjadi penduduk Jawa Barat. Secara waktu keberadaan saya di wilayah ini, maka seharusnya saya sudah bisa dikatakan sebagai penduduk dan orang Jawa Barat dengan berbagai karakteristiknya. Dari aspek demografis legal formal, saya adalah penduduk Jawa Barat yang terbukti dari KTP, KK dan identitas lain adalah warga resmi Jawa Barat dengan nomor induk kependudukan awalan 321620 sekian-sekian. Akan tetapi ada karakter orang Jawa Barat yang belum bisa saya penuhi sampai sekarang ini. Saya belum bisa berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Inilah masalah saya dan mungkin sebagian perantau dari daerah di luar Jawa Barat.

Masalah tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Sunda ini, walaupun bukan merupakan masalah yang sangat urgent, namun menjadi hal yang membuat saya kepikiran. Bahasa Indonesia adalah bahasa sehari-sehari saya di lingkungan perumahan dan tempat kerja. Sedangkan di keluarga, bahasa Jawa adalah bahasa keseharian saya dan istri (karena dia juga berasal dari daerah Jawa Tengah). Komunikasi dengan anak, saya menggunakan bahasa campuran Jando (Jawa Indonesia). Saya sudah cukup lama tinggal dan bermukim di Tanah Pasundan, walaupun kata orang Bekasi itu adalah wilayah campuran antara budaya Sunda dan Betawi. Seharusnya saya sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Saya kemudian mencoba menganalisis permasalahan saya ini dan mencoba mendekati lewat perspektif yang sedikit banyak saya tahu, yaitu pendekatan Geografi.   

PERUMUSAN MASALAH

Mengapa saya sampai sekarang belum bisa berkomunikasi dengan bahasa Sunda?

ANALISIS

Ketidakmampuan dan ketidakmauan saya ini mempunyai beberapa kemungkinan. Berikut ini kemungkinan  faktor-faktornya:

Faktor Personal dan Sosial

Analisis dari faktor ini mengacu kepada modalitas saya sebagai orang yang secara alamiah bukan penutur bahasa Sunda. Saya lahir di Yogyakarta yang lingkungannya kental sekali dalam budaya Jawa. Saya tumbuh dan besar dari dewasa selama hampir 28 tahun di lingkungan yang bahasa sehari-harinya bahasa Jawa dengan 3 level. Bahasa Jawa kasar (Ngoko), bahasa sopan (Kromo Madya), dan bahasa super sopan (Kromo Inggil). Bahasa Jawa kasar adalah bahasa yang saya gunakan untuk komunikasi sehari sehari dengan kawan-kawan seumuran, kawan-kawan sekelas, kawan-kawan se sekolah. Bahasa Jawa menengah yang sopan (Kromo Madya) saya gunakan kepada orang yang lebih tua seperti para tetangga, kakak-kakak dan mas-mas di berbagai tempat. Bahasa Jawa super sopan (Kromo Inggil) saya gunakan kepada orang tua dan simbah-simbah. Di lingkungan formal dari mulai TK, SD, SMP, dan SMA komunikasi saya adalah menggunakan bahasa campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, walaupun masih cukup dominan bahasa Jawa. Sekitar 60% bahasa Jawa 40% bahasa Indonesia. Saat masa belajar di tingkat dasar sampai menengah lingkungan sosial saya masih relatif homogen. Sebagian besar orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengan saya adalah orang Jawa. Belum beragam. Kalaupun ada beberapa keberagaman ya mungkin muncul dari pendatang. Yogyakarta sebagai kota pendidikan adalah destinasi para perantau yang ingin menuntut ilmu. Karakter pendatang yang merupakan penuntut ilmu menjadikan mereka sebagai pembelajar. Adaptasi mereka terhadap budaya setempat menjadikan para pendatang ini tinggi. Mereka cepat sekali beradaptasi dengan budaya, seperti manner, attitude sosial, kuliner, gaya hidup yang slow living, dan bahkan juga bahasanya. Terlebih, masyarakat Yogya adalah masyarakat yang relatif andap asor, humble, dan ramah terhadap pendatang. Pendatang diterima dengan tangan terbuka, dengan senang hati. Pendatang yang sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa kemudian belajar bahasa jawa dengan cepat dengan support system masyarakat setempat yang terbuka. Dalam waktu singkat maka bahasa komunikasi yang awalnya adalah berbahasa nasional, bahasa Indonesia, beralih berangsur ke bahasa lokal yaitu bahasa Jawa dengan aksen masing-masing. Kebutuhan untuk bersosialisasi dengan penduduk lokal yang tinggi dan jiwa pembelajarnya membuat mereka punya minat untuk mempelajari bahasa Jawa.

Walaupun sekarang sudah mulai bergeser juga polanya. Industrialisasi, komersialisasi, kapitalisasi menjadikan para pelajar yang datang ke Yogya tidak lagi banyak membutuhkan interaksi sosial dengan masyarakat lokal. Hal-hal yang mereka butuhkan untuk bersosialisasi sudah banyak bergeser. Dan dipenuhi oleh industry barang dan jasanya. Pendatang mengalami alienasi di tempat yang didatanginya. Pemiskinan budaya terjadi di kota kelahiran saya ini. Pelajar yang datang hanya focus untuk studinya, dan ketika wisuda dan kembali ke tempat asalnya masing-masing mereka hanya kembali dengan gelar dan keilmuwan formal, namun kehilangan local wisdom-nya, salah satunya kemampuan berbahasa Jawa. Sungguh sayang seribu dua ratus sayang….

Rupanya, menurut pengamatan saya , faktor ini yang cukup signifikan membuat lemahnya pergeseran saya secara pribadi untuk diversifikasi bahasa komunikasi yang saya gunakan. “Jawa adalah  koentji!” demikian kata Dipo Nusantara Aidit[2] di film G30S PKI. Makanya kemudian saya jadi lemah motivasi untuk belajar bahasa asing/bahasa daerah yang lain. Kecuali tentu saja yang benar-benar merupakan panggilan hati dan tuntutan ekonomi, karir, ataupun yang lainnya.

Faktor Keruangan dan Interaksinya

Fase Purwakarta

Ketika saya pindah ke Purwakarta, saya dibantu oleh kakak ipar yang kebetulan sudah mukim duluan di Purwakarta sebelumnya untuk mencari rumah kontrakan. Jadilah saya menempati sebuah rumah kontrakan di Perum Griya Asri di kecamatan Ciseuruh, Kabupaten Purwakarta. Kota kecil Purwakarta,  yang seumur hidup baru sekali ini saya menginjakkan kaki, jadi destinasi migrasi Kota Desa saya. Orang Geografi bilang ini adalah Ruralisasi. Saya pindah dari Kotamadya Yogyakarta yang dengan ciri-ciri kekotaannya, pindah ke daerah Kabupaten Purwakarta yang secara administratif adalah wilayah bercorak perdesaan. Walaupun secara lokasi absolutnya perumahan saya ada di pinggiran  Purwakarta (sub-urban) yang merupakan transisi antara wilayah inti kota (city core). Karakteristik perumahan di sebelah Selatan perempatan Sadang ini khas wilayah pinggiran Industrial Estate yang kebanyakan penghuninya adalah pekerja Industri yang memilih untuk mengambil lokasi perumahannya di sekitar tempat kerjanya. Secara teoritis ini merupakan sebuah contoh penerapan teori konsentrisnya E.W. Burgess[3] bahwa permukiman pekerja yang merupakan kelas menengah agak menjauh dari CBD (Central Business Distric) nya di Zona 4 dan 5.

Saya tidak akan membahas kondisi Geografi Fisiknya , lebih terkait dengan karakteristik demografinya. Perum Griya Asri sudah barang tentu sebagai permukiman kelas pekerja dihuni sebagian besar para pendatang. Fenomena di Indonesia adalah apabila ada kawasan industri dibuka di suatu wilayah, maka pertimbangan untuk menggunakan jasa tenaga kerja setempat seolah jadi hal yang tidak diprioritaskan. Padahal itu adalah tanah kelahiran para penduduk setempat, namun ketika terkait dengan penggunaan tenaga kerja, pemilik industri dan para konsultannya memilih untuk tetap membuka keran besar untuk impor dari wilayah luar. Lihatlah berbagai kasus di Jawa Barat, Sulawesi, Papua, bahkan sampai ke luar negeri (di Jepang, Taiwan, Hongkong dan Malaysia untuk beberapa sektor tertentu), banyak tenaga kerja asingnya. Dalam kasus saya ini, maka banyak orang luar Purwakarta yang menjadi pekerja di pusat-pusat industri di Purwakarta. Entah mengapa pemilik industri memilih orang luar Purwakarta sebagai tenaga kerjanya. Ada semacam ketidakadilan pada kasus ini. Tapi apa daya lah, selain donatur dilarang ngatur. Power of money talks.

 Purwakarta sendiri mempunyai 2 pusat industri besar di wilayahnya yaitu kawasan Indo Bharat Rayon[4] di sekitar Jatiluhur, serta kawasan industri Bukit Indah City[5] di daerah Cikopo, perbatasan Purwakarta dengan Cikampek Kabupaten Karawang.  Industri besar, menengah dan kecil berkumpul sebagai bagian dari aglomerasi industri sebagai kebijakan pertumbuhan ekonomi di zaman orba dahulu kala.[6] Industri adalah leading sector dengan multiplying value added nya yang dengan cepat mengakselerasi perkembangan suatu wilayah dengan dampak positif dan negatifnya.

Kembali ke pembahasan lingkungan saya tinggal di perumahan Griya Asri. Saya menyewa rumah dari seorang ibu-ibu sepuh yang sayangnya saya lupa namanya (sungguh pengontrak yang kurang simpatik). Beliau orang Sunda, dari Bandung aslinya. Interaksi saya dengan beliau hanya terjadi beberapa kali, itu pun lewat perantaraan kakak ipar yang tinggal beda blok dengan saya. Tetangga sebelah kiri saya adalah orang asli Purwakarta (akamsi) yang mempunyai usaha organ tunggal, studio music dan penyewaan sound system. Namanya pak Wawan (kalau tidak salah). Rumahnya sering digunakan untuk latihan. Sayangnya beliau ini kalau latihan suka lupa kalau tinggal di tengah perumahan yang temboknya saling nempel. Mirip fenomena sound horeg saat ini. Pas mereka latihan, pak Wawan dan para kawan-kawan serta biduannya, rumah kontrakan saya kadang bergetar karena resonansi suara dari sound system mereka. Saya tentu saja jadi kurang nyaman. Apalagi di bulan April 2005, 7 bulan setelah saya mukim di kontrakan tersebut anak saya lahir. Akan tetapi, sebagai pendatang baru tentu saja saya tidak bisa (baca tidak mau) punya konflik dengan akamsi. Dampaknya adalah saya tidak berinteraksi secara intensif dengan tetangga ini. Padahal kalau saja hubungannya relatif harmonis, bukan tidak mungkin saya bisa belajar banyak dari beliau berbahasa dan berkomunikasi dengan bahasa Sunda.

Tetangga kanan saya adalah keluarga keturunan Tionghoa yang sepertinya kurang harmonis. Saya tidak tahu namanya, tetapi saya masih ingat nama anaknya yaitu Owen. Mungkin nama panjangnya Michael Owen, sama dengan striker timnas Inggris tahun 90 an akhir hingga awal tahun 2000-an. Striker legendaris andalan Liverpool yang kemudian pindah ke Real Madrid (hanya bapak-bapak pecinta liga inggris yang ngerti soal ini). Mereka suka bertengkar dan berteriak-teriak kalau sedang bertengkar. Sebagai orang Jawa yang tidak terbiasa dengar pertengkaran yang sengit dan ramai, saya juga merasa terganggu. Tapi sekali lagi, saya pun tidak bisa berbuat banyak sebagai pendatang baru. Interaksi saya dengan tetangga kanan saya pun jadi hampir tidak ada. Interaksi dengan lingkungan saya menjadi terbatas dengan hanya tetangga depan saya, yaitu pak Joni, karyawan/staf di PT. Indo Bharat Rayon. Kalau tidak salah beliau asli orang Semarang, jadi berkomunikasi dengan beliau masih mix antara menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Hobinya karaoke, tapi lumayan tahu waktu. Tidak sampai mengganggu tetangganya. Namun interaksi itu juga sesekali saja karena saya Senin hingga Sabtu sibuk dengan urusan pekerjaan,beliau pun saya rasa juga begitu. Jadi sekadar say hai, dan berbasa-basi ala kadarnya sebagai tetangga pada umumnya saja.

Saya setiap pagi berangkat kerja dari sehabis Shubuh pas, mengejar omprengan di daerah pintu tol Kopo Cikampek menuju Cikarang. Pulang selepas Ashar dan sampai rumah biasanya menjelang Maghrib atau kadang-kadang selepasnya. Semuanya menggunakan angkutan umum dan angkutan omprengan. Sesekali mencoba dengan kereta odong-odong yang gerbongnya tanpa lampu dan AC, tanpa tiket bahkan, hanya membayar kepada kondektur kereta sebesar 2000 rupiah kalau tidak keliru. Kereta ini jurusan Purwakarta – Jakarta Kota yang berhenti di stasiun Lemah Abang, yang berhenti di setiap stasiun kecil antara Purwakarta samapi Jakarta Kota. Isinya para pedagang sayuran, pegawai Tanah Abang, dan para pengais rezeki yang umumnya ke Jakarta dengan biaya murah.  Otomatis ketika sampai di rumah badan sudah loyo, dan hanya ingin istirahat saja. Akhir pekan di hari Ahad, saya fokus untuk keluarga. Mengajak jalan-jalan anak istri  selayaknya sebuah keluarga. Selain interaksi dengan tetangga, sebenarnya ada juga interaksi sosial saya dengan komunitas yang lebih jauh dari tetangga sekitar. Saya sering berjamaah di masjid perumahan. Namun ternyata jamaahnya kebanyakan juga pendatang dan banyak orang Jawanya. Interaksi dengan lingkungan menjadi sangat terbatas. Ini sepertinya bagian dari penyebab lemahnya kemampuan saya untuk berkomunikasi dengan bahasa Sunda di Jawa Barat. Praktis selama 2,5 tahun di Purwakart, saya hampir tidak pernah berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Sunda. Tidak ada yang memaksa dan saya pun tidak merasa penting menggunakannya. Payah sekali.

Fase Cikarang Bekasi

Awal 2007, saya memutuskan pindah dari Purwakarta ke Cikarang Bekasi. Perjalanan Purwakarta -Cikarang Senin sampai Sabtu sudah tidak bisa ditahan sama tubuh saya yang menua (hihihi …biar dramatis). Saya dibantu teman mencari rumah kontrakan yang memenuhi kriteria kenyamanan untuk tinggal di Cikarang. Pilihan saya sebenarnya antara di daerah Lippo dan sekitarnya atau Jababeka. Banyak pertimbangan saya saat itu. Sebagai pengajar Geografi tentu saja aspek geografi saya pertimbangkan. Aksesibiltas fasilitas, konektivitas, dan kemudahan berpindah dalam ruang, faktor jarak, ongkos transportasi masuk dalam indikatornya. Pilihan saya jatuh ke daerah Jababeka, yang akses ke jalan tol lebih dekat dengan berbagai fasilitasnya termasuk bus Damri ke bandara, kedekatan dengan stasiun Cikarang, fasilitas air bersih WTP, akses telekomunikasi dari Telkom.

Cikarang sebagai kota industri besar ternyata memiliki karakteristik ruang yang cukup berbeda dengan Purwakarta. Secara teoritis, maka dalam pandangan saya struktur Cikarang ini lebih ke Multi-Nucleus City sesuai teorinya Harris dan Ulman[7]. Banyak inti kota dalam wilayahnya yang merupakan pengembangan wilayah. Tidak sesederhana Purwakarta. Cikarang dan sekitarnya punya beberapa pusat (CBD) yaitu Delta Mas (pusat pemerintahan) , Lippo Cikarang dan Jababeka sebagai pusat baru (Growth Pole) dan kawasan sekitar Cikarang Kota Lama (pasar lama Cikarang , SGC , dan sekitarnya).

Kembali saya tidak akan membahas geografi fisik Cikarang terkait dengan kondisi alamnya seperti geomorfologi, bentang alam dan sebagainya. Secara umum saja, Cikarang kota yang panas, macet, ruwet, sering banjir, dan kota sejuta angkot dan ojek (agak lebay ini sih). Tapi itu kesan awal saya dulu ketika sampai di Cikarang. Sekarang sudah banyak berubah. Cikarang adalah sebuah wilayah yang menurut saya perkembangannya cukup pesat.

Saya cerita saja tentang kondisi demografis lingkungan perumahan saya dan interaksinya.

Perumahan Cikarang Baru tahun 2007 masih belum seruwet dan seramai sekarang ini. Tapi lihatlah sekarang ini. Zaman awal saya pindah ke Cikarang Baru, Stadion Wibawa Mukti masih sawah, dan jalan dari arah President University menuju Stadion Wibawa Mukti mentok sampai di jembatan kali kecil dekat Stadion. Pokoknya luar biasa perkembangannya. Pertambahan penduduk baik alami maupun sosialnya memberikan warna baru wilayah ini.

Rumah saya berada di sebuah kluster yang dulunya tidak bisa disebut kluster karena banyak jalan keluarnya. Jadi alih-alih sebuah kluster, maka perumahan saya ini malah mirip sebuah pola aliran radial sentrifugal. Satu perumahan dengan banyak jalan keluarnya. Akibatnya, tingkat keamanannya jadi rendah dan rawan pencurian. Akibatnya kegiatan ronda warga saat awal menjadi cukup intensif. Interaksi dengan tetangga saya kali ini lumayan intensif. Namun kali ini (lagi-lagi) faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan untuk bisa menguasai bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi saya tetap menemui hambatan.

Tetangga saya di satu blok beraneka ragam asalnya. Ada dari Sumatera, Jawa Tengah, Yogya, Sulawesi, Jakarta, Garut. Tetapi kembali yang dominan justru adalah orang yang bersuku Jawa dan menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi kesehariannya. Selain di kegiatan ronda, kegiatan di lingkungan saya paling kegiatan di masjid, dan pasar. Sekali lagi didominasi dengan percakapan dan komunikasi menggunakan bahasa Jawa dan mayoritas bahasa Indonesia. Bahasa Sunda jadi bahasa minoritas, sayang sekali.

Bagaimana dengan lingkungan kerja saya?

Sekolah saya adalah sekolah yang cukup beragam asal gurunya. Rekan-rekan guru saya ada yang berasal dari Jawa, Sumatra, Sumatera, dan beberapa dari Jawa Barat. Namun bahasa sehari-hari kami secara umum tetap bahasa Indonesia secara terbatas dan bahasa Inggris yang cukup intensif sebagai pengantar baik komunikasi dengan guru maupun siswa. Hal ini karena tuntutan dari pihak manajemen sekolah saya. Praktis di sekolah tempat kerja saya, interaksi dengan bahasa Sunda juga mengalami kendala.

SEBUAH ANALISIS

Dari cerita panjang saya yang ngalor ngidul tadi, maka ada beberapa kesimpulan yang akhirnya sedikit banyak bisa menjelaskan lemahnya penguasaan bahasa Sunda bagi para pendatang di daerah Jawa Barat :

  1. Faktor internal personal: tidak ada paksaan dan urgensi penggunaan bahasa Sunda secara personal bagi para pendatang. Andaikan ada paksaan maka mau tidak mau mereka akan belajar baik secara formal maupun non-formal, bahkan secara informal.
  2. Faktor sosial: intensitas interaksi antar individu dalam suatu masyarakat akan memberikan dampak bagi kebutuhan individu untuk belajar menggunakan bahasa setempat. Dalam hal ini, masyarakat di lingkungan rumah, lingkungan kerja apabila mereka dominan menggunakan bahasa Sunda, maka pendatang akan segera beradaptasi untuk mempelajarinya.
  3. Faktor keruangan : daerah perumahan dengan ciri kekotaan, dengan karakteristik penduduk yang heterogen asal daerahnya akan melemahkan keinginan bisa menguasai bahasa Sunda bagi para pendatangnya. Faktor tempat serta jenis pekerjaan juga akan mempengaruhi penggunaan bahasa Sunda bagi para pendatang.

Awalnya saya mengira interaksi adalah faktor terpenting dalam masalah saya. Pendekatan interkasi antara wilayah yang saya tahu dari teori geografi adalah teori interaksi gravitasi dari Newton yang kemudian diterapkan oleh W.J. Reilly (1929). Seorang ahli geografi yang memodifikasi huku Newton untuk mengukur kekuatan interaksi keruangan antara dua wilayah atau lebih. Berdasarkan hasil penelitiannya, Reilly berpendapat bahwa kekuatan interaksi antara dua wilayah yang berbeda dapat diukur dengan memerhatikan faktor jumlah penduduk dan jarak antara kedua wilayah tersebut. Untuk kasus saya ini, kekuatan interaksi yang terjadi sepertinya belum cukup menjadi sebab saya bisa berbahasa Sunda di tanah Pasundan. Jumlah penduduk di Jawa Barat sudah cukup banyak dan memenuhi asumsi awal, dan jarak antar daerah juga hampir nol yang berarti sangat kecil. Seharusnya kekuatan interaksinya menjadi sangat besar dan mengarah kepada keberhasilan dalam menguasai bahasa Sunda. Namun yang terjadi ternyata adalah bahwa kalau vektor dan arahnya tidak sesuai maka interaksi itu tidak akan mengarah kemana-mana dan hanya akan menjadi sebuah potensi saja. (mohon maaf kalau interpretasinya ngawur dan kurang relevan).

KESIMPULAN

Sebagai  penutup, alangkah baiknya saya ambil kesimpulan bahwa seorang pendatang akan mampu menguasai bahasa setempat apabila ada faktor-faktor pendorong dan pendukungnya. Beberapa faktor yang terlibat adalah faktor personal, sosial, dan ruang hidupnya (spatial/living space). Faktor yang dominan adalah faktor personal, yang datang dari dalam diri orang tersebut. Faktor sosial dan faktor keruangan adalah faktor pendukung , pendorong dan katalis bagi pendatang untuk bisa menguasai bahasa setempat, namun bukan faktor utama. Secara ilmiah tulisan ini sebenarnya bisa dilanjutkan ke ranah yang scientific dengan sistematika yang benar. Sok atuh …. yang mau meneliti untuk genre geografi alternatif. Geografi sosio-linguistik. Mangga

PENUTUP

Setelah 21 tahun ini saya berjuang, berinteraksi, mencari nafkah, punya anak, punya sahabat-sahabat di MGMP Geografi Kabupaten Bekasi, dan hidup di tanah Pasundan ini, masih belum juga saya bisa berbahasa Sunda. Problem ini tentu mostly berasal dari diri saya sendiri, walaupun dari faktor sosial, dan keruangannya sudah sangat kondusif. Sungguh sebuah kesempatan yang sayang seribu sayang saya lewatkan. Kalau saja ada support system yang kemudian saya bisa mempalajarinya mulai sekarang, saya pikir akan tetap dengan optimis saya akan ambil. Kesempatan dari tempat kerja mungkin akan sangat kecil, tapi dengan berInteraksi dengan teman-teman penutur Sunda di mana saja, mungkin suatu saat akan menjadikan motivasi saya untuk belajar lagi. Toh saya (sepertinya) mengurungkan niat  untuk pensiun di Yogya, karena tanah Yogya bukan lagi tanah yang ramah untuk bahkan penduduknya. Harganya mahal banget. Jadi kalau umur panjang , saya mungkin akan masih lama tinggal di Bekasi. Apalagi, anak saya yang dulu pernah saya cita-citakan kuliah di Yogya, lebih memilih untuk kuliah di Bandung. Hitung-hitung sebagai penebusan dosa, sebagai pendatang yang tidak bisa bahasa Sunda, berharap keturunannya yang bisa. Dia sekarang sudah lumayan bahasa Sundanya, minimal aksen Sunda Bandungnya sudah cukup bagus. Tapi entahlah ….

Nah kalau ada yang bertanya sejauh ini apa pencapaiannya dalam berbahasa Sunda, maka saya akan jawab,” Sepertinya bahasa Inggris saya jadi lebih baik”. Sekian


[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Geographic_mobility

[2] https://almaadin.wordpress.com/2015/01/19/jawa-adalah-kunci/

[3] https://web.archive.org/web/20110629113720/http://people.hofstra.edu/geotrans/eng/ch6en/conc6en/burgess.html

[4] https://www.kompas.com/tren/read/2024/12/20/183000865/profil-indo-bharat-rayon-perusahaan-yang-bikin-sritex-pailit?page=all

[5] https://www.kotabukitindah.com/profile/history

[6] https://ejournal.warunayama.org/index.php/causa/article/view/3706

[7] https://pangeography.com/multiple-nuclei-model-by-harris-and-ullman/

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Agenda

25
Apr 2026
waktu : 07:30
Agenda telah lewat
29
Nov 2025
04
Okt 2025
waktu : 08:00
Agenda telah lewat
27
Sep 2025
waktu : 07:00
Agenda telah lewat

Link Terkait